Blogger templates

Tampilkan postingan dengan label Budaya Ngawi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya Ngawi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 September 2017

Pawai Pembangunan Ngawi



     Festival Gunungan menampilkan 24 jenis gunungan merupakan kali pertama digelar hasil dari ide yang digagas sebelumnya. Pada event ini jelasnya, sengaja dipamerkan aneka rupa gunungan sebagai satu tradisi sedekah bumi yang tujuan akhir untuk menggerakan ekonomi kerakyatan.
Festival Gunungan bakal digelar menjadi satu budaya tradisi disetiap tahunya sebagai penopang kekuatan terhadap khasanah budaya yang dimiliki Kabupaten Ngawi. Demikian juga diharapkan, warga masyarakat harus memahami akan tradisi itu sendiri demi peningkatan kesejahteraan
Pawai pembangunan yang biasa disebut karnaval di Kota Ngawi jauh beda dari tahun sebelumnya, kali ini cukup meriah terbukti ribuan warga berjubel disepanjang jalan.Pawai pembangunan yang dilepas langsung Bupati Ngawi Budi Sulistyono dengan mengambil rute Jalan Teuku Umar, Jalan Mayjen Suprapto, Jalan Hasanudin diteruskan ke Jalan Yos Sudarso, Jalan PB Sudirman, Jalan    Trunojoyo hingga berakhir Jalan Mayjen Suprapto.Seusai melepas peserta pawai dari SDN Margomulyo I Bupati Ngawi mengatakan bahwa kegiatan seperti ini untuk memperkuat tali dan ikatan persaudaraan sebagai sesama warga masyarakat.
      Budi Sulistyono selaku Bupati Ngawi menjelaskan, bahwa adanya pawai budaya tersebut  selain untuk memperingati HUT RI juga untuk  menumbuhkan sikap patriotisme serta mengangkat budaya asli daerah ngawi. Dan untuk mengenalkan Ngawi Spektakuler. Dengan harapan untuk kedepannya Ngawi lebih di kenal di masyarakat dengan Ngawi Yang Spektakuler.
Ribuan masyarakat dari berbagai daerah di ngawi yang datang sangat antusias untuk menyaksikan pawai budaya tersebut. Mengingat acara seperti ini hanya ada setiap satu tahun sekali.(ags)

Tempat Mitos di Ngawi

1. Alas Ketonggo
Alas Ketonggo, Ngawi 
     Dilihat dari namanya sendiri sebenarnya sudah cukup merepresentasikan apa yang ada di dalamnya. Ketonggo berasal dari kata “Katon” yang berarti terlihat dan “Onggo” yang artinya adalah makhluk halus.
Menurut sejarah, tempat ini adalah hutan di mana Prabu Brawijaya bersembunyi ketika Majapahit diserang Demak. Alas Ketonggo juga sekaligus tempat dimakamkannya sang raja yang dibuktikan lewat sebuah makam tua.
Sama seperti dua tempat mistis di atas, Alas Ketonggo juga katanya adalah sebuah kerajaan gaib. Tempat ini juga sering sekali dikunjungi banyak orang entah untuk bersemedi atau berziarah.
2. Air Terjun Pengantin




     Mendengar nama air terjun pengantin, mungkin mengingatkan Anda dengan judul film yang diperankan Tamara Blezynski sekitar tujuh tahun lalu. Faktanya lokasi air terjun itu memang ada dan penuh mitos.
Ya, air terjun pengantin atau air terjun jumok terletak di Dusun Besek, Desa Hargomulyo Kecamatan Ngrambe, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Air terjun pengantin, kini menjadi salah satu objek wisata populer di kalangan wisatawan.
Sebenarnya lokasi wisata ini tidak se-mistis dalam Film 'Air Terjun Pengantin'. Disebut air terjun pengantin, karena memiliki dua aliran air yang saling berdampingan, layaknya sepasang pengantin di pelaminan.
Suasananya pun sangat sejuk, asri, dan indah. Di tempat wisata yang letaknya tak jauh dari permukiman penduduk itu, Anda bisa menikmati segarnya air terjun sambil berenang.

Kamis, 07 September 2017

Kedhuk Beji

Image result for keduk beji   Sesepuh Desa Tawun Kecamatan Kasreman, selaku Juru Silep, Mbah Wo Supomo, mengatakan upacara Keduk Beji merupakan salah satu cara untuk melestarikan adat budaya penduduk Desa Tawun sejak jaman dulu.

"Upacara itu digelar setiap Selasa Kliwon berdasarkan penghitungan tanggal Jawa Islam," ujar Mbah Pomo panggilan akrabnya, kepada wartawan, Selasa (10/5/2016).

     Menurut dia, inti dari upacara Keduk Beji terletak pada penyilepan atau penyimpanan kendi di pusat sumber air Beji. Pusat sumber tersebut terdapat di dalam gua yang terdapat di dalam sumber.

"Setiap tahunnya, kendi di dalam sumber diganti melalui upacara ini. Hal ini dimaksudkan agar sumber air Beji tetap bersih. Sumber itu digunakan untuk minum, pengairan sawah, dan suberair di taman Tawun," terangnya.

     Upacara Keduk Beji berawal dari pengedukkan atau pembersihan kotoran di dalam sumber Beji. Seluruh warga pria, pemuda, dan anak laki-laki desa terjun ke sumber air untuk mengambil sampah dan daun-daun yang mengotori kolam dalam setahun terakhir.

Selama proses pembersihan, para pemuda yang berada di sumber air Beji menari dan melakukan tradisi saling pukul dengan setangkai ranting sambil diringi gending Jawa.

     Setelah itu, upacara dilanjutkan dengan penyilepan dan penggantian kendi ke dalam pusat sumber. Yang berhak menyelam dan mengganti kendi di sumber air adalah keturunan dari Eyang Ludro Joyo merupakan sesepuh desa yang dipercaya jasadnya dulu menghilang di sumber Beji saat bertapa.

    Selain melestarikan sumber air, upacara Keduk Beji oleh Pemkab Ngawi telah diakui sebagai ikon wisata budaya. Sebab, Keduk Beji telah menjadi agenda seni budaya tahunan yang dapat meningkatkan tingkat kunjungan wisata ke Ngawi.

Sejarah Ngawi

      Kabupaten Ngawi adalah sebuah wilayah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ibukotanya adalah Ngawi. Kota kabupaten ini terletak di bagian barat Provinsi Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah.
    Asal-usul

      Kata Ngawi berasal dari kata awi, bahasa Sanskerta yang berarti bambu dan mendapat imbuhan kata ng sehingga menjadi Ngawi. Dulu Ngawi banyak terdapat pohon bambu. Seperti halnya dengan nama-nama di daerah-daerah lain yang banyak sekali nama-nama tempat (desa) yang di kaitkan dengan nama tumbuh-tumbuhan. Seperti Ngawi menunjukkan suatu tempat yang di sekitar pinggir Bengawan Solodan Bengawan Madiun yang banyak ditumbuhi bambu. Nama ngawi berasal dari “awi” atau “bambu” yang selanjutnya mendapat tambahan huruf sengau “ng” menjadi “ngawi”. Apabila diperhatikan, di Indonesia khususnya jawa, banyak sekali nama-nama tempat (desa) yang dikaitkan dengan flora, seperti : Ciawi, Waringin Pitu, Pelem, Pakis, Manggis dan lain-lain.
 Image result for Suasana kota ngawi

Batik Ngawi

       Motif batik Ngawi dibedakan menjadi dua yaitu batik motif yang dibuat di Desa Munggut, Kecamatan Padas dan Desa Banyubiru, Kecamatan Widodaren.
Adalah hal yang sangat membanggakan bagi warga Ngawi, karena memiliki batik dengan corak khas dan menarik.
Bagi kamu orang Ngawi, tentu tahu apa saja yang terkenal dari kota ini. Ngawi terkenal dengan wisatanya seperti, Benteng Pendem, wisata edukasi Museum Trinil, ataupun Kebun Teh Jamus, dan masih banyak lagi.

1.Batik Motif Kali Tempuk

Image result for batik motif kali tempuk ngawi
       Batik ini menggambarkan perpaduan dua Bengawan yaitu Bengawan Solo dan Bengawan Madiun yang melintasi Ngawi.

2.Batik Motif Padi Mendung

     Keindahan batik ini dapat memikat orang yang meilhatnya. Terdapat corak tumbuhan dan hewan sawah yang menjadi ciri khas dari batik padi mendung.
Ini bisa jadi terinspirasi dari hasil alam Ngawi yang memiliki hamparan sawah dengan padi yang subur.


3.Batik dengan Motif Trinil

   

      Salah satu wisata Ngawi yang terkenal adalah Museum Trinil. Wisata edukasi ini memberikan pengetahuan tentang manusia purba dan benda-benda purba jaman dahulu.
Adalah hal menraik yang dapat kamu temui, batik dengan bermotifkan manusia purba.

4.Batik Motif Tulang Pati Khas Ngawi

 

 Selain batik-batik di atas, masih banyak lagi batik ngawi yang indah lainya.
Menajubkan, kekayaan dan keberagaman daerah yang dimiliki dapat menjadi inspirasi dituangkan dalam sebuah kain yang menjadikannya batik dengan corak khas daerah yang memiliki nilai seni tinggi.
Semoga batik-batik ini tetap lestari dan dicintai oleh masyarakat.


 

 

Blogger news

Blogroll

About